Rabu, 14 September 2016

Kenggu, Internet dan Media Sosial

Seperti dalam catatan sebelumnya, Kenggu akan tetap membayangi perjalanan Molas Hombel dimana dan kapan pun blog  diupdate. Kenggu, kampung kecil di Desa Cireng, Satar Mese Barat, Manggarai itu adalah misteri penting bagi perjalanan dan kiprah Molas Hombel di jagat maya. Benar, bahwa Kenggu sudah tak seperti dulu lagi. Dia berkembang maju, seiring berkembangnya pembangunan di Manggarai. Juga, tak ketinggalan, seirama dengan pesatnya perkembangan Internet dan Media Sosial yang telah mewabah secara global itu.

Social Media di Ruteng
Ilustrasi Infografis logo berbagai jenis sosial media di dunia | Photo: Istimewa

Di masa itu, kami memang kesulitan mengakses internet dan media sosial. Sejak saat kami tiba di sana, handphone kami sering tak dipakai. Selain karena jaringan penerangan (litrik) yang hanya mengandalkan generator-itu pun tidak terpasang di tempat kami tinggal- juga karena koneksi internet yang menjengkelkan. Kadang muncul, kadang hilang. Lebih banyak hilang-nya.

Situasi itu juga membuat kami, tiap kali kami pulang ke Ruteng, menganggap iklan perusahaan telekomunikasi dengan jargon "Begitu Dekat Begitu Nyata", pada tahun itu, adalah omong kosong, bohong dan rakus. "Tipu-Tapu", ucap kami merespon iklan itu jika muncul di layar kaca. Tetapi, ya, namanya iklan e, begitu lah cara perusahaan menarik simpati konsumen.

Di sisi lain, di masa-masa itu, kami menyadari juga betapa distribusi pembangunan khususnya bidang akses informasi dan telekomunikasi sungguh tak adil di negeri Pan-ca-si-la ini. Sila kelima Pancasila bilang: "Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia". "Hah? Adil?". Terlepas dari itu, selama di Kenggu, persoalan akses komunikasi tak menyuruti semangat pengabdian kami. Pengabdian sebagai guru dan pendidik bagi Sekolah Dasar Inpres (SDI) Kenggu, Cireng, Satar Mese Barat. "Sebab, pengabdian seorang guru tidak bergantung pada koneksi internet". Aseeek.

Akses internet yang timbul-tenggelam itu, juga menyulitkan kami berselancar di media sosial. Update status di beranda facebook sangat jarang. Blog ini juga akhirnya diparkir sekian lama. upload foto, tak usah bermimpi. Nafsu narsisnya terkubur dalam sekali saat itu. Padahal, keinginan besar kala itu ialah terus mengupdate informasi dan dokumentasi visual selama proses pembelajaran di dalam ruangan kelas via media sosial. Kali aja dengan itu sekolah itu bisa jadi viral atau tenar di media sosial. Hehe

Media Sosial di Ruteng
Grafik Pengguna Media Sosial di Indonesia| Infografis: Statista

Hingga saat sekolah itu ditinggalkan, hanya dua file foto yang berhasil tembus di beranda facebook. Konon, di suatu hari, kami diajak mengikuti sebuah resepsi pernikahan di kampung tetangga. Letaknya cukup jauh dari tempat tinggal kami. Kampung itu cukup ramai. Selain karena jumlah penduduknya lebih banyak dari Kampung Kenggu, juga karena letaknya yang tepat berada di ruas jalan Ruteng-Labuan Bajo.

Signal internet cukup kencang di sana. Setidaknya untuk mengupload foto di beranda media sosial. Dua foto yang dijepret hari itu pun mendarat di beranda. Kami senang, meskipun setelah beberapa saat berselancar, harus kembali pusing mencari charger handphone. Low Bat. Jika litani kenangan tentang Kenggu, Internet dan Media Sosial kembali dikenang kini, rasa-rasanya, negara ini sungguh tak adil. Kadang, itu yang terpikirkan.

Lihat saja, pengguna internet (internet user) di Indonesia semakin hari semakin bertambah. Kini jumlahnya mencapai
100 juta orang dari kurang lebih 3,424,971,237 jumlah pengguna internet di dunia. Setidaknya, begitu yang dipaparkan Managing Director Google Indonesia, Tony Keusgen dalam acara Google for Indonesia di Jakarta (09 Agustus 2016). Jumlah tersebut meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2014, menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), jumlah pengguna internet mencapai 88,1 juta. Angka tersebut naik dari 71,2 juta di tahun sebelumnya. Pada bulan April 2016, Kementerian Komunikasi dan Informasi menyebut bahwa sebagian besar pengguna internet di Indonesia merupakan pengguna media sosial (Social Media). Kemenkominfo juga menyebut bahwa peningkatan jumlah pengguna internet di Indonesia bisa terlihat dari tingginya pengguna ponsel pintar (smartphone) di Indonesia yang mencapai 124 juta pengguna.
Profil Pengguna Internet di Nusa Tenggara Timur
Grafik pengguna internet di Indonesia tahun 2014, hasil kerja sama APJI dan Kemenkominfo

Peningkatan jumlah pengguna internet ini nyatanya telah mengafirmasi satu hal penting, bahwa pasang-surut peradaban lebih dominan ditentukan oleh internet. Internet tidak hanya berpengaruh dalam menentukan kesuksesan ekonomi seseorang, tetapi juga menentukan relasi, kebersamaan, dan sosialita seseorang. Bisnis online yang semakin menjamur saat ini menegaskan contoh pemanfaatan jaringan internet untuk usaha ekonomi itu.

Online shop tumbuh dengan pesatnya. Konektivitas lintas generasi terjadi dengan dahsyatnya dengan sosial media. Wow! Zaman makin maju. Saya dan anda, tentunya, juga merasakan itu hari ini. Kita terhubung karena internet; social media dan aplikasi online lainnya. Tidak sedikit hal yang terungkap saat kita terkoneksi di jaringan internet. Paling mendasar, kita semakin saling mengenal karakter.

Dengan berbagai perkembangan itu, kecemburuan sebagai anak bangsa yang tinggal di Kota Kecil, Ruteng pun menyeruak di dalam diri. Kadang-kadang, saya berpikir, jangan-jangan kami bukan bagian dari Indonesia.