Selasa, 06 September 2016

Molas Hombel Menulis

Pramoedya Ananta Toer, penulis tersohor itu pernah bilang begini; “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Sebagai seorang yang tak memiliki kemampuan menulis, saya memang kadang cemburu dengan mereka yang memiliki hobi dan kemampuan besar dalam urusan tulis menulis. Mereka mampu memberi dorongan dan inspirasi terhadap dunia hanya dengan ukiran kata-kata.

Molas Hombel Menulis
Sedang menyelesaikan materi pendidikan untuk sekolah| Photo: Ian Lerrick (2012)

Bulan lalu, saya kedatangan tamu. Seorang sahabat karib yang sudah dianggap sebagai saudara datang berkunjung ke rumah, di Hombel-Ruteng. Banyak hal yang dibagikan, dikisahkan saat itu. Dari urusan karir hingga urusan pasangan hidup, pecah dalam diskusi itu. Nostalgia masa lalu dan kelakuan konyol masa-masa SMA juga mengalir dalam obrolan kami.

Di tengah obrolan itu, saya coba melempar tema soal urusan tulis menulis. Kepentingan saya sebenarnya hanya agar “Molas Hombel” ini tidak kosong, terisi dan ramai dengan narasi-narasi baru.

Ada ide nakal saat kami ngobrol, membuat semacam gerakan menulis di Ruteng. Konsepnya, dengan mengajak beberapa teman perempuan lainnya untuk ikut menulis tema-tema seputar dunia perempuan. Menulis tentang isu-isu gender, kesehatan wanita dan perempuan dalam pembangunan lokal. Kira-kira begitu lah. Tetapi, ole, saya harus jujur e. Saya nihil pengetahuan untuk urusan begitu. Temanya terlalu berat, terlalu luas dan butuh banyak referensi. Tujuannya, selain mengasah kemampuan menulis, dengan itu kami juga coba mengungkap banyak kegelisahan sosial dari sudut pandang perempuan Manggarai.

Molas Hombel

Kami setuju untuk mengaksikan ide itu. Dimulai dengan mencatat (listing) tema tulisan yang akan dikupas sepekan setelahnya. Tentu, yang cukup sulit adalah mencari bahan bacaan tambahan agar menambah bobot tulisan itu nantinya.

Secara pribadi, saya cukup serius dengan ajakan untuk aktif di dunia kepenulisan ini. Apalagi jika mengingat usia “Molas Hombel” yang sudah cukup lama, dengan konten yang amat sedikit, sisi kanan dan kirinnya juga masih berantakan. Ajakan ini benar-benar menyenangkan saya dan memacu saya untuk melatih dan terus melatih menuangkan ide dalam tulisan.

Urusan kesalahan, tentu tak perlu ditakuti. Kata Stephanie Perkins, “Everyone makes mistakes. The important thing is to not make the same mistake twice.” Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Namun, yang paling penting adalah tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Pesannya, kesalahan yang kita lakukan adalah pintu untuk masuk ke dalam fase perbaikan diri, refleksi dan menemukan solusi yang lebih tepat dari sebelumnya.

Anyaman Writing Write Molas Hombel
Writers Write| Photo: Relaxolotl (Flickr)

Apalagi, jika mengingat identitas sebagai perempuan Manggarai, yang (katanya) amat dinantikan perannya dalam pembangunan Manggarai. Mungkin, itu juga yang selalu buat saya bangga dengan kakak-kakak perempuan, senior di kampus waktu kuliah dulu, atau tokoh-tokoh perempuan dunia yang tampil membanggakan di depan publik, jadi politisi, aktivis, presenter, pegiat LSM, bahkan ada yang tembus jadi pemimpin negara.

Di kancah internasional, sebut saja, Suraya Pakzad asal Afghanistan, seorang pegiat LSM, tokoh Organisasi Suara Perempuan di Afganistan. Ada juga Soreh Aghdaslo yang menjadi perempuan Iran pertama masuk dalam nominasi aktris pendukung terbaik penghargaan film bergengsi sejagat Oscar pada 2003.

Lalu, ada Ratu Nur dari Yordania, seorang janda dari almarhum Raja Hussein. Dia lulusan Universitas Priceton Amerika Serikat, seorang penulis, diplomat, dan tokoh Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dikenal sebagai pakar politik Timur Tengah.

Ada juga Azar Nafisi yang mampu mempengaruhi sejagat lewat karya tulis. Dia berasal dari Iran, penulis buku Membaca Lolita di Teheran (Reading Lolita in Tehran). Buku itu mengisahkan perjuangan perempuan di negara-negara Islam untuk mendapat hak-hak mereka. Keempat nama itu, pernah meramaikan sejumlah kolom media massa dunia sebagai empat perempuan Muslim paling berpengaruh di abad 21.

Sekolah Minggu Gmit Imanuel Ruteng
Kegiatan pendampingan anak-anak sekolah Minggu GMIT Imanuel-Ruteng| Photo: Ian Lerrick

Di Amerika, kini, ada Hillary Clinton, ada Michelle Obama, yang hampir saban hari membagikan pengalaman mereka di berbagai bidang kerja. Atau, kisah heroik dan patriotik RA. Kartini pada abad 19. Pada masanya, Kartini banyak memberikan kritik terhadap kondisi sosial masyarakat yang kerap menempatkan dan memperlakukan perempuan tidak setara dengan kaum laki-laki. Beberapa hal yang selalu ditentang oleh Kartini adalah soal perkawinan anak di bawah umur dan poligami. Itu bisa dilihat dari sejumlah surat yang ditulis oleh Kartini.

Dalam tulisannya, Kartini menegaskan kaum perempuan harus berani mengemukakan gagasannya untuk memberikan pemikiran alternatif yang selama ini lebih didominasi oleh kaum laki-laki. Perlawanan Kartini dilakukannya dengan potongan-potongan tulisan (surat, zaman itu). Apa yang dilakukan Kartini di masa itu, menjadikannya perempuan hebat yang tetap terpatri dalam sanubari wanita Indonesia masa kini.

Di zaman sekarang, saya tentu kagum dengan Megawati Soekarno Putri, Sri Mulyani Indrawati, Nafsiah Mboi, dan masih banyak tokoh perempuan lainnya yang memiliki kapasitas dan potensi untuk membangun negara ini. Meski tak sepopuler tokoh-tokoh itu, namun banyak wanita di Manggarai yang memiliki potensi, semangat dan prinsip yang kuat untuk membaktikan dirinya kepada lingkungannya, untuk daerahnya, untuk bangsa dan negara: bakti dan dedikasi yang tinggi untuk Ruteng, untuk Manggarai.

Kutipan Pramoedya Ananta Toer
Kutipan Pramoedya Ananta Toer tentang menulis |Photo: tokohkita. com

Saya kadang cemburu dengan kemampuan mereka yang sungguh hebat itu. Mereka tidak hanya memiliki ide yang cemerlang, tetapi juga mampu mewujudkan berbagai ide itu dalam perilaku dan perbuatan mereka sehari-hari. Di Ruteng, kita bisa check sendiri orang-orangnya. Terlalu banyak wanita yang punya kemampuan hebat di Ruteng. Apalagi di Hombel. Hehehe

Dari mereka kita belajar menjadi seorang wanita yang terus mengeksplorasi kemampuannya dan memanfaatkan kemampuannya bagi orang lain dan dunia. Semua orang takjub atas peran yang mereka wujudkan dalam membangun dunia. Apakah kita akan jadi seperti mereka nantinya? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Jika kita terus berupaya mengasa kemampuan kita, insya Allah, harapan itu akan menjadi nyata.

Obrolan kami malam itu akhirnya berbuah manis. Molas Hombel akan sering diisi lagi. Saya sangat senang dengan semangat yang meluap di obrolan kami itu. Kerinduan saya untuk kembali aktif menulis akhirnya termotivasi dengan baik lewat obrolan itu. Meski akan banyak menemukan kesalahan, kenapa tidak kita coba? Kata Albert Einstein; "A person who never made a mistake never tried anything new." Seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tidak akan pernah menemukan hal baru. Semoga saya bisa. Amin