Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Januari 2017

Komite Sekolah Boleh Galang Dana. Ini Penjelasannya


Dengan pertimbangan untuk meningkatkan layanan mutu pendidikan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy memandang perlu dilakukan revitalisasi tugas Komite Sekolah berdasarkan prinsip gotong royong. Atas dasar pertimbangan tersebut, pada 30 Desember 2016, Mendikbub menandatangani Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor: 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah.

Dalam peraturan ini disebutkan, bahwa Komite Sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orangtua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.

“Komite Sekolah berkedudukan di tiap sekolah, berfungsi dalam peningkatan pelayanan pendidikan; menjalankan fungsinya secara gotong royong, demokratis, mandiri, profesional, dan akuntabel,” bunyi Pasal 2 ayat (1,2,3) Permendikbud itu.

Menurut Permendikbud ini, anggota Komite Sekolah terdiri atas:
a. Orangtua/wali dari siswa yang masih aktif pada sekolah yang bersangkutan paling banyak 50% (lima puluh persen)
b. Tokoh masyarakat paling banyak 30% (tiga puluh persen), antara lain: 1. Memiliki pekerjaan dan perilaku hidup yang dapat menjadi panutan bagi masyarakat setempat; dan/atau 2. Anggota/pengurus organisasi atau kelompok masyarakat peduli pendidikan, tidak termasuk anggota/pengurus organisasi profesi penduduk dan pengurus partai politik;
c. Pakar pendidikan paling banyak 30% (tiga puluh persen), antara lain: 1. Pensiunan tenaga pendidik; dan/atau 2. Orang yang memiliki pengalaman di bidang pendidikan.

“Anggota Komite Sekolah berjumlah paling sedikit 5 (lima) orang dan paling banyak 15 (lima belas) orang,” bunyi Pasal 4 ayat (2) Permendikbud itu.

Ditegaskan dalam peraturan itu, bahwa bupati/wali kota, camat, lurah/kepala desa merupakan pembina seluruh Komite Sekolah sesuai dengan wilayah kerjanya.

Menurut Permendikbud ini, anggota Komite Sekolah dipilih melalui rapat orangtua/wali siswa, dan ditetapkan oleh Kepala Sekolah yang bersangkutan, dengan masa jabatan paling lama 3 (tiga) tahun dan dapat dipilih kembali untuk satu kali masa jabatan.

Keanggotaan Komite Sekolah berakhir apabila:
a. Mengundurkan diri;
b. Meninggal dunia;
c. Tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap; atau
d. Dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana kejahatan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Penggalangan Dana

Dalam Permendikbud ini disebutkan, Komite Sekolah melakukan penggalangan dana dan sumber daya pendidikan lainnya untuk melaksanakan fungsinya dalam memberikan dukungan tenaga, sarana, dan prasarana, serta pengawasan pendidikan.

“Penggalangan dana dan sumber daya pendidikan lainnya berbentuk bantuan dan/atau sumbangan, bukan pungutan,” bunyi Pasal 10 ayat (2) Permendikbud ini.

Namun ditegaskan dalam Permendikbud ini, bahwa Komite Sekolah harus membuat proposal yang diketahui oleh Sekolah sebelum melakukan penggalangan dana dan sumber daya pendidikan lainnya dari masyarakat. Selain itu, hasil penggalangan dana harus dibukukan pada rekening bersama antara Komite Sekolah dan Sekolah.

Hasil penggalangan dana tersebut dapat digunakan antara lain:
a. Menutupi kekurangan biaya satuan pendidikan;
b. Pembiayaan program/kegiatan terkait peningkatan mutu sekolah yang tidak dianggarkan;
c. Pengembangan sarana/prasarana; dan
d. Pembiayaan kegiatan operasional Komite Sekolah dilakukan secara wajar dan dapat dipertanggung jawabkan.

Sementara penggunanaan hasil penggalangan dana oleh Sekolah harus:
a. Mendapat persetujuan dari Komite Sekolah;
b. Dipertanggungjawabkan secara transparan; dan
c. Dilaporkan kepada Komite Sekolah.

“Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi Pasal 16 Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 yang telah diundangkan oleh Dirjen Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM Widodo Ekatjahjana pada 30 Desember 2016.

Sumber: Setgab

Senin, 12 September 2016

Tips Menghadapi Murid Nakal di Kelas

Sebagai guru, apalagi guru sekolah dasar, sangat lah perlu memiliki segudang cara dan tips menghadapi murid nakal di kelas, khususnya saat pelajaran sedang berlangsung. Sebab, kadang-kadang, jika tidak ditangani secepat mungkin dan dengan cara yang tepat, situasi pembelajaran akan sangat terganggu dan tidak efektif.

Tips Menghadapi Murid Nakal di Kelas
Tips Menghadapi Murid Nakal di Kelas | Designed by: +Molas Hombel 

Secara sederhana, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring mendefenisikan kata "nakal" seperti berikut; Nakal: suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu, dan sebagainya, terutama bagi anak-anak). Murid (kadang-kadang) disebut nakal karena sering mengganggu temannya selama pelajaran berlangsung, tidak mendengarkan pemaparan materi dari guru, tidur-tiduran, mengajak temannya ngobrol selama pelajaran berlangsung, mengajukan pertanyaan yang tidak sesuai konteks atau tema pelajaran yang disajikan gurunya, tidur selama jam pelajaran berlangsung, melawan guru saat diberikan pembinaan, dan berbagai bentuk tindakan lainnya yang mengganggu warga kelas yang sedang mendengar pelajaran.

Perilaku nakal di dalam kelas, sering sekali dijumpai pada perilaku siswa di Sekolah Dasar. Saya memiliki sejumlah pengalaman menghadapi kondisi pembelajaran yang terganggu gara-gara adanya perilaku nakal murid selama pelajaran berlangsung. Tindakan mereka sangat mengganggu situasi pelajaran dan membuat penyajian materi pelajaran harus diulang kembali. Tentu, sebagai manusia biasa, emosi bisa saja meledak seketika saat pelajaran diganggu oleh tindakan nakal seorang murid.

Tetapi, meskipun situasi pembelajarannya terganggu oleh tindakan-tindakan nakal dari murid di dalam kelas, seorang guru senantiasa dituntut untuk bersikap sabar, rendah hati dan mampu mengendalikan situasi tersebut dengan baik. Seorang guru harus tetap tenang dan fokus pada tujuan penyajian materi.

Alasan Siswa Sekolah Dasar Nakal

Dalam psikologi pendidikan, tentu kita mengenal tahapan-tahapan perkembangan anak. Mulai dari dia kanak-kanak, hingga dewasa. Bagi seorang guru, mengenal tahapan perkembangan anak secara komprehensif sangat membantu dirinya menemukan solusi atas tindakan-tindakan murid di dalam kelas yang mengganggu proses pembelajaran.

Di sekolah dasar, perilaku siswa yang nakal di dalam kelas saat jam pelajaran berlangsung tentu berkaitan erat dengan perkembangan usia mereka, yang mana lebih didominasi keinginan untuk bermain dan bercengkerama dengan teman-temannya. Mereka tidak terlalu betah di dalam kelas jika mereka hanya duduk dan mendengar penjelasan dari gurunya.
Tips Menghadapi Murid Nakal di Kelas
Seorang anak Sekolah Dasar sedang mengikuti pelajaran di ruangan kelas | Photo: Hendra Prabowo (Flickr)

Saya sering sekali mengalami situasi kelas yang terganggu karena ulah dan tindakan beberapa orang murid yang sangat mengganggu suasana pelajaran selama pelajaran berlangsung. Beberapa tindakan mereka, misalnya; mengganggu teman sebangku yang sedang asyik mendengar pelajaran, menggambar sesuatu yang muncul dalam pikirannya saat guru sedang berbicara, tidur saat pelajaran berlangsung, bahkan ada yang memukul temannya saat jam pelajaran berlangsung.

Akibatnya, situasi kelas menjadi gaduh, konsentrasi murid lainnya menjadi terganggu-tidak lagi mendengar penyajian materi yang dipaparkan guru dan pelajaran akhirnya harus ditunda beberapa saat karena sang guru harus memberi pembinaan terhadap murid yang menyebabkan situasi itu di dalam kelas. Situasi-situasi tersebut tidak hanya terjadi satu kali. Saban hari, guru selalu menemukan situasi tersebut di dalam kelas.

Tips Sederhana Menghadapi Murid Nakal

Seorang guru tentu perlu memiliki strategi yang tepat untuk menghadapi murid nakal di dalam kelas. Strategi yang diterapkan para guru bisa saja variatif, dikondisikan dengan tempat, lingkungan dan konteks situasi yang terjadi.

Meskipun berbeda cara, namun, setidaknya apa yang pernah saya alami dan saya lakukan terhadap murid saya sedikit menambah daftar strategi dan tips menghadapi murid nakal yang telah anda miliki dan anda terapkan selama ini. Mari kita mulai dengan tips sederhana menghadapi murid nakal;

Mengenal Karakter dan Latar Belakang Murid yang Nakal

Saya sangat yakin, semua guru di dunia sangat mengenal karakter setiap murid yang dididiknya. Apalagi seorang guru kelas di Sekolah Dasar. Seorang Guru SD biasanya memiliki daftar muridnya yang memiliki kecenderungan yang tinggi dalam berperilaku nakal di dalam kelas. Dengan mengenal karakter murid yang nakal itu, maka seorang guru langsung mengetahui strategi apa yang diterapkan.

Misalnya, murid saya, sebut saja namanya Randi, adalah seorang yang sangat aktif dalam berbicara. Dia suka ngobrol dengan teman-temannya. Di rumahnya, dia sangat dimanjakan oleh orang tuanya. Dia senang mencoba hal-hal yang baru, yang dia temukan di lingkungannya. Di dalam kelas, tentu keaktifan berbicara itu akan dia lakukan dengan teman-temannya meskipun saat pelajaran sedang berlangsung, dan teman-temannya sedang mendengarkan pemaparan materi pelajaran dari guru di depan kelas.

Meminta Murid Nakal Menjelaskan Ulang Materi yang Dipaparkan Guru

Saat pelajaran tengah berlangsung dan seorang guru melihat dan mendapati murid nakal tengah mengganggu murid yang lain, seorang guru langsung memanggil nama murid tersebut dan meminta dia mengulangi apa yang baru saja disampaikan guru.

Misalnya: “Randi, coba kamu ulangi apa yang baru saja ibu jelaskan”

Tips ini bisa saja dilakukan dalam dua bentuk. Pertama, meminta murid tersebut mengulangi apa yang disampaikan guru secara lisan, dan, Kedua, murid tersebut diminta menuliskan di papan tulis apa yang disampaikan gurunya.

Pengalaman saya, cara itu cukup ampuh untuk menghentikan perilaku murid yang nakal di dalam kelas saat pelajaran berlangsung. Saat dia berhenti melakukan perbuatannya, seorang guru langsung memberi pembinaan agar perbuatannya tidak diulangi lagi.

“Jangan nakal lagi di dalam kelas. Kalau guru sedang memberi penjelasan, kamu dengarkan apa yang guru sampaikan. Saya minta Randi tidak mengulangi perbuatan tadi”

Meminta Murid Nakal Berpindah Tempat Duduk

Cara ini duduk pada pemahaman, bisa saja murid yang nakal di dalam kelas juga karena pengaruh temannya yang duduk berdekatan. Misalnya, karena mereka sering bermain bersama di luar kelas, atau karena teman yang berdekatan itu adalah teman akrabnya. Murid yang nakal tadi diminta untuk berpindah tempat duduk, misalya ke tempat duduk yang lebih dekat dengan gurunya.

Guru Menjedahi Materi Pelajaran dengan Game

Bagi seorang guru SD, game sangat penting untuk mendinamisasi situasi di dalam kelas. Tujuannya, agar pelajaran tidak terasa membosankan dan jenuh. Sebab, kadang-kadang, murid sekolah dasar dapat menemukan semangatnya untuk menemukan pelajaran setelah diajak bermain dalam sebuah game (permainan) yang dikreasikan gurunya.

Guru juga bisa menggunakan game untuk menghentikan perilaku murid yang nakal di dalam kelas. Meskipun, dalam beberapa kasus, seorang guru kadang terkesan mengabaikan murid yang tadinya melakukan perbuatan nakal di dalam kelas. Padahal, sebenarnya, tidak lah demikian. Guru tentu tahu dan melihat aksi nakal muridnya selama jam pelajaran berlangsung.

Namun, juga diperlukan otokritik dalam diri guru dengan asumsi sederhana bahwa penyebab murid nakal di dalam kelas juga karena metode pengajaran gurunya membosankan dan membuat muridnya jenuh. Untuk hal tersebut, silahkan memilih game yang paling cocok dengan situasi kelas anda dan dimainkan pada saat ada aksi nakal yang dilakukan murid.
Tips Menghadapi Murid Nakal di Kelas
Foto bersama dengan para penari SDK Cewonikit Ruteng pada 17 Agustus 2016 | Photo: +Molas Hombel 

Lakukan Pendekatan dengan Orang Tua Murid

Saya percaya, perkembangan seorang kognitif dan afektif seorang murid tidak hanya bergantung sepenuhnya terhadap pendekatan akademik di sekolah. Lingkungan sosial dan keluarga juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan anak. Oleh karena itu, dalam menghadapi murid yang sering nakal di dalam kelas, saya juga menerapkan metode pendekatan terhadap kedua orang tuanya. Dengan pengecualian, tindakan nakal di dalam kelas dari si murid dilakukan berulang-ulang dan setelah mendapat teguran atau pembinaan dari saya sebagai guru.

Pendekatan terhadap orang tuanya bertujuan agar orang tuannya juga mengetahui situasi dan perilaku anaknya di sekolah. Sehingga, harapannya, melalui pendekatan komunikatif dan persuasif tersebut, orang tua murid dapat turut membantu memberikan dorongan dan perbaikan terhadap murid yang nakal tersebut.

Meminta Bantuan Guru Bimbingan Konseling

Untuk menangani perilaku murid yang nakal, saya juga sering meminta bantuan dan dukungan dari guru yang membidangi Bimbingan Konseling di sekolah. Pola ini beberapa kali saya terapkan dan ternyata cukup manjur untuk memperbaiki sikap murid yang sering nakal di dalam kelas.

Oleh pihak bimbingan konseling, murid yang nakal tersebut diberikan motivasi dan penguatan karakter (baca: pembinaan) agar tidak mengulangi perbuatannya dan menjadi murid teladan, disiplin dan patuh terhadap gurunya.

Rekan-rekan sekalian, demikianlah catatan tak penting tentang tips menghadapi murid yang nakal di dalam kelas ini.

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 10 September 2016

Mimpi Kemajuan Pendidikan di Kenggu

Kenggu akan tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan di Molas Hombel. Ia membekas, tidak hanya di tulisan tetapi juga di pelukan ingatan. Di Kenggu juga pernah ada mimpi kemajuan pendidikan, yang terefleksi dari pengalaman langsung di SDI Kenggu, tempat saya pertama kali mengabdikan diri sebagai guru.
SDI Kenggu Manggarai
Sekolah Dasar Inpres (SDI) Kenggu, Kecamatan Satar Mese Barat, Kab. Manggarai-Flores| Photo: Kemendikbud.go.id

Usai menyelesaikan studi di perguruan tinggi, saya bekerja menjadi guru di sebuah Sekolah Dasar (SD) di desa yang cukup jauh dari Ruteng, Manggarai. Di desa itu hanya ada satu sekolah dasar. Bangunan sekolah itu sudah tua. Atapnya banyak yang rusak. Padahal, sekolah itu menampung murid dari kurang lebih empat anak kampung di desa itu. Kondisi sekolah itu jauh berbeda dengan sekolah dasar yang berada di tempat tinggal saya, Ruteng.

Di Ruteng, sebagian besar bangunan sekolahnya bagus, rapi. Kalau rusak, pasti segera diperbaiki-mendapat bantuan dari pemerintah daerah dalam waktu yang cepat dan diperbaiki secepat mungkin. Setidaknya, itu yang klik di kepala saat hari pertama tiba di desa itu, Juni 2008.

Jaringan penerangan (baca: listrik) belum tersambung. Jangan lah kita bicara jaringan Broadband, WiFi di sekolah itu. Tidak ada jaringan internet sekaliber itu di sana.

Di dalam kelas, terlalu naïf untuk mengharapkan adanya laptop dan proyektor sebagai pendukung pembelajaran, sebagaimana yang dipakai guru-guru SD di banyak tempat lain di Indonesia. Di sekolah itu, kami masuk, berdiri di depan kelas, mengajar sambil menulis di “papan tulis hitam”, menjelaskan materi pelajaran dengan suara yang cukup keras. Saat kami menulis, murid-murid mencatat. Begitulah pendidikan itu terjadi di dalam kelas saban harinya di sana.

Wilayah Kenggu Manggarai
Pelangi di Kebun warga Kenggu | Photo: Istimewa

Selama di sana, saya tinggal di sebuah rumah milik sekolah. Rumah itu sudah lama dibangun pihak sekolah untuk keperluan tempat tinggal guru pegawai negeri sipil yang ditugaskan di sekolah itu. Letakknya persis di bagian timur sekolah. Konon, kisah warga setempat, pembangunan rumah itu adalah salah satu bentuk program peningkatan kesejahteraan guru pada era Presiden Soeharto. Di rumah itu, saya tinggal dengan seorang rekan guru. Perempuan. Ia seangkatan saya di kampus, bahkan telah bersahabat lama sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kami berdua sama-sama tidak berasal dari desa tersebut. Rumah kami semuanya di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai. Kami pulang ke Ruteng hanya saat liburan. Jarang sekali kami menghabiskan akhir pekan kami di Ruteng. Kami merasa betah di desa itu. Bahkan, kami sangat senang jika mendapat undangan dari warga sekitar untuk menghadiri acara pernikahan atau acara-acara lain di kampung sekitar. Dengan begitu, kami semakin mengenal wilayah itu, mengakrabkan diri dengan warga kampung sekitar dan mengambil bagian dalam keseharian mereka.

Awal tiba di sana, jujur, kami memang sering geram. Signal handphone susah. Apalagi biara internet. Kami sulit berkomunikasi dengan sahabat via telephone. Pun jika bisa terhubung, hanya pada malam hari. Itu pun, kadang hilang, kadang muncul signalnya. Jangan bicara soal media sosial yang saat itu sedang jadi trend kalangan bujang untuk berkomunikasi dengan banyak sahabat. Ah, jauh sekali dari urusan media sosial di tempat itu. Itulah alasannya, mengapa beranda facebook dan twitter saya tak banyak menyimpan kenangan selama di Kenggu. Apalagi nge-blog. Padahal, Molas Hombel sudah ada saat itu. Media sosial hanya bisa diakses saat kami pulang ke Ruteng.

Kami tak banyak komentar dengan situasi di rumah maupun di sekolah yang serba kekurangan itu. Kami sungguh menikmati semua yang tersedia di sana. Kami bahkan mulai merasa betah dan akrab dengan warga setempat. Inspirasi dan latarbelakangnya cerita-cerita orang tua yang telah terbenam lama di kepala, tentang sekolah, tentang pendidikan dan tentang perkembangan guru-guru zaman mereka. Alm. ayah sering membungkus situasi itu dengan kalimat, “Dulu, diiznkan sekolah oleh orang tua saja syukur dan girangnya minta ampun.”

Ayah jelas benar soal itu. Dulu, di era mereka, kesadaran banyak orang akan pentingnya pendidikan masih minim. Sekolah bahkan dianggap omong kosong, pendidikan hanya membebani para orang tua. Kesadaran itu perlahan patah seiring masuknya misionaris-misionaris Katolik di daratan Flores dan Timor pada awal abad ke 19. Mereka membangun sekolah-sekolah, mewartakan Injil dan menumbuhkan kesadaran pentingnya pendidikan. Meski serba sulit dan penuh kekurangan, harus diakui, proses pendidikan era itu telah bersumbangsih besar bagi Flores, NTT hari ini.

Anak-Anak Kenggu Manggarai
Tiga bocah sedang asyik duduk di pinggir sawah di Manggarai, Flores. | Photo: Susan K (Flickr)


Dalam berbagai kesempatan, selama mengajar di sana, diskusi tentang kemajuan sekolah sering mengemuka di kalangan guru-guru. Sambil meyeruput kopi saat rehat, kami merencanakan cara-cara tertentu untuk memajukan sekolah itu. Minimal, kondisi sekolahnya bisa diperbaiki dan adanya penambahan fasilitas pembelajaran. Terkhusus, buku-buku pelajaran. Namun, terusterang, berbagai ide kemajuan sekolah itu tak pernah ada yang berwujud realita, bahkan hingga saya meninggalkan sekolah itu pada Juli, 2009, tak ada tanda-tanda berkat kebijakan pemerintah setempat bagi sekolah itu. Saya akhirnya meninggalkan sekolah itu setelah saya diterima bekerja di SDK Cewonikit Ruteng, tempat saya mengabdi saat ini. Saya mulai mengabdi di sekolah ini sejak Januari 2010.

Imaji Kemajuan

Waktu kuliah, istilah transfer knowledge sering sekali masuk di telinga. Jika dikontekskan dengan urusan kependidikan, saya membayangkan situasi dimana murid-murid saya bisa lebih banyak mendapat tambahan transfer knowledge di luar sekolah. Dari orang tua, teman dan lingkungannya. Tentunya, hal itu sangat membantu mereka untuk memahami pelajaran di sekolah yang didapatkan dari para guru. Dampaknya, materi pelajaran yang didapatkan di sekolah bisa lebih cepat dipahami oleh setiap murid. Tetapi, apa mau dikata, itu hanya imaji. Asa yang batal jadi realita.

Murid-murid saya adalah anak-anak desa. Hampir sebagian besar lahir dari orang tua yang bermata pencaharian bertani. Petani tradisional. Latar belakang pendidikan orang tuanya juga rata-rata tak mampu mengimbangi tuntuan kemajuan pembelajaran anak-anaknya. Artinya, tumpuan terbesar peningkatan kemampuan kognitif dan afektif adalah di sekolah, di tangan para guru di sekolah. Kemampuan kognitif berkaitan dengan kemampuan berpikir, sementara kemampuan afektif berkaitan dengan sikap, nilai, perilaku dan emosi. Padahal, bukankah perkembangan pendidik harus juga perlu melibatkan peran orang tua?

Bahkan, jika dihitung, anak-anak sekolah lebih banyak waktunya bersama orang tua di rumah. Di sekolah, mereka bersama guru dan teman-temannya tidak lebih dari 8 jam. Dari pukul 07.00-pukul 13.00 WITA. Untuk itu, kerja keras, kreativitas, kesabaran dan konsistensi para guru menjadi tuntutan.

Tarian Tradisional Manggarai Flores
Tarian tradisional Manggarai, Flores dipentaskan beberapa anak | Photo: Passioniste (Fickr)

Dengan kondisi sekolah dan lingkungan yang seperti itu, para guru, berusaha keras menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dan mampu menjawab tuntutan kontekstual murid dan sekolah itu. Selain metode, faktor bahasa yang digunakan selama pelajaran juga sangat menentukan efektifitas pembelajaran. Terusterang, kami harus sering menggunakan bahasa daerah, Bahasa Manggarai, dalam menyajikan bahan pelajaran. Sedikit sekali waktunya untuk menggunakan Bahasa Indonesia. Sebab, realita murid di sekolah itu lebih dominan menggunakan bahasa daerah dalam kesehariannya dari pada menggunakan bahasa Indonesia. Saat mereka di rumah atau di lingkungannya, mereka bahkan tak pernah menggunakan Bahasa Indonesia. Mereka lebih sering menggunakan Bahasa Manggarai.

Demikian pula saat di sekolah, khususnya di dalam kelas. Dalam percakapan dengan teman-temannya, mereka tidak menggunakan Bahasa Indonesia. Mereka menggunakan Bahasa Manggarai. Ya, kira-kira begitu lah saban hari situasi di sekolah itu. Selain urusan bahasa, lingkungan desa itu bukan lingkungan melek internet. Pengguna smartphone tidak banyak. Warnet? Oalah, jangan lah ditanyakan. Nihil. Ya, bagaimana bisa akses internet, listrik saja susah. Jauh lah perbedaanya dengan lingkungan anak sekolah di Jawa dan Bali, bukan?

Guru-guru di sekolah itu juga tak banyak yang menggunakan smartphone. Padahal, jika dipikirkan, sebagian besar informasi dan perkembangan pendidikan-termasuk kebijakan pendidikan nasioal-selalu viral lewat internet, bukan? Kondisi itu seakan-akan membuat kami memandang kemerdekaan hanya sebagai dongeng sejarah. Bukan realita kekinian.

Bersambung